Jumat, 21 April 2017

DAUN


Tulisan ini terinspirasi dari kunjungan ke salah satu lokasi pertanian di Gunung Putih Kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan tadi sore. Matahari bersinar dengan teriknya di atas kepala kami, udara terasa sangat panas menyengat, namun ketika kami sampai di daerah perbukitaan Karst Gunung Putih, semuanya jadi terasa berbeda, rindangnya pepohonan menyejukkan suasana dan menghalau terik panas matahari.  Diskusi ringan terjadi antara kami dengan teman-teman dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Kaltara yang menemani (sebenarnya bukan diskusi ringan sih, lebih mirip kuliah lapangan kayaknya), dosen dipancing studi kasus, keluarlah ilmu fisiologi tumbuhan, halaaah.... (maaf kawan-kawan Agronomi ya, saya ijin mewakili kalian).
Ternyata tidak banyak yang tahu, malah ada yang lupa tentang hakekat sehelai daun yang diciptakan Tuhan, memiliki mukjizat yang jarang kita pikirkan. Sehelai daun (hanya dari sehelai daun saja) bisa mengontrol aliran energi pada biosfer bumi. Ia memberikan kesempatan berbagai kehidupan untuk bernafas dan berkembang biak, melanjutkan eksistensi spesiesnya, menjadi kunci bagi kalori dan rantai makanan. Kalori berpindah dari rantai makanan satu ke rantai makanan lainnya bermula dari selembar daun yang tipis – namun secara mikrobiologi bisa merupakan organ, jaringan, individu sel tunggal berkhlorofil. Tidak satupun dari kehidupan di dunia yang mampu mengolah sinar matahari menjadi energi dan mengirimkannya ke dalam sistem rantai makanan, kecuali daunAda mekanisme keajaiban Allah SWT yang menakjubkan pada saat seberkas cahaya matahari menimpa permukaan daun. Dalam sepersekian juta detik, energi foton matahari pada luasan tertentu bagian daun diubah bentuknya menjadi energi kimia berbentuk molekul-molekul, dalam proses yang cepat penyusunan molekul air melepaskan O2 ke udara dan memproduksi atom hidrogen bebas untuk reaksi selanjutnya. Pada saat yang sama, stomata membuka-menutup seperti pintu sebuah mall, memastikan CO2 dari udara luar mengalir masuk dalam volume yang tepat. Di dalam sel daun, katalis dan hidrogen secara bebas mengikat CO2, sekali lagi berlangsung reaksi kimia, tapi kali ini tanpa sinar matahari. Selanjutnya dalam waktu teramat singkat, terjadi reaksi jenis kedua yaitu dark photosynthesis yang menghasilkan molekul organic tingkat pertama, C-H-O, dengan 3 – 4 atom C yang menjadi dasar dari substansi organic yang lebih stabil: glukosa atau lemak. Itulah tugas mulia dari daun, pohon, hingga hutan yang menyediakan makanan berlimpah dalam rantai makanan dari terbit matahari hingga tenggelamnya.  Namun karena dosa-dosa manusia yang mengingkari nikmat Tuhan-Nya menjadikan tugas selembar daun menjadi amat berat bebannya akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca. Akibat ulah kita...

Senin, 10 April 2017

Lets move on again...

Lama sudah punya niatan nulis lagi di sini setelah target CUM LAUDE di UGM tercapai, tetapi kesibukan sebagai dosen yang biasa di luar selalu menghalangi keinginan saya tersebut.

Pun dengan kegelisahan saya selama mengajar beberapa mata kuliah di Jurusan Agroteknologi Minat Ilmu Tanah yang membuat keinginan untuk berbagi segala hal berbau 'tanah' semakin menguat.  Gelisah? Iya, gelisah setiap kali evaluasi perkuliahan, mayoritas mahasiswa saya selalu berada di bawah harapan capaian pembelajaran.  Yang membuat berbagai macam pertanyaan muncul dan menari-nari jaipongan di pikiran; salah dosennya yang goblok ngajar atau mahasiswa nya yang malas belajar?

Beberapa kali interopeksi diyakini bahwa penyebabnya ternyata:
1.  Dosennya memang goblok mengajar (trus kok bisa cum laude ya?)
2.  Mahasiswanya malas belajar, alasannya tidak banyak bahan bacaan tentang ilmu tanah yang berbahasa Indonesia, apalagi yang berbahasa daerah :)) Alasan lainnya: pakai bahasa Indonesia saja, kami kesulitan memahami, apalagi harus membaca referensi dalam bahasa asing... Ciaaah... Kebanyakan alasan kayaknya...

Okelah, dicoba untuk menulis beberapa hal yang berkaitan tentang ilmu tanah dalam bahasa Indonesia, supaya mahasiswa saya gak banyak alasan lagi untuk belajar dan mencari referensi tambahan, juga supaya dosennya jadi lebih mawas diri dan mengembangkan keilmuannya.  Sekarang bukan saatnya lagi untuk belajar membaca, tetapi saatnya membaca untuk belajar,  bukan hanya untuk sekedar tahu, tetapi juga untuk mengerti, memahami dan (semoga) bisa!

Bismillah....

Jumat, 28 November 2008

Maaf...


Sorry, blognya agak mandeg beberapa bulan ini, soalnya lagi 'uji nyali' di UGM, biar tambah mumpuni ilmu pedologi-nya. Mohon doa restunya ya, target CUM LAUDE moga tercapai... Terima kasih.

Sabtu, 13 September 2008

Faktor Pembentuk Tanah V - Manusia

Manusia adalah termasuk faktor pengubah sifat dan jenis tanah yang sangat dominan pengaruhnya. Karena populasi, kebutuhan dan teknologi yang meningkat mengakibatkan semakin besar dan luas pengaruh manusia terhadap tanah, terutama pada kesuburan kimiawi, fisik, biologis dan klimatis tanah. Pemupukan mengakibatkan berubahnya kesuburan kimiawi tanah, penggunaan bahan organik dan pembajakan tanah mengakibatkan berubahnya struktur tanah, demikian pula irigasi dan penggunaan mulsa atau tanaman penutup tanah mengakibatkan perubahan terhadap kondisi biologis dan klimatis tanah.

Faktor Pembentuk Tanah IV - Vegetasi dan Organisme Tanah

Vegetasi dan organisme dapat berperan sebagai faktor pembentuk dan pengubah tanah dengan reaksi biokimianya terhadap batuan atau setelah terdekomposisi dapat menjadi bahan induk tanah itu sendiri . Dalam hal ini vegetasi dan atau organisme dapat mempengaruhi sifat kimiawi dan fisik tanah. Tanah yang berasal dari vegetasi famili legum lebih subur dari pada tanah berasal dari hasil pelapukan vegetasi rumput-rumputan dan jauh lebih subur dari tanah yang berasal dari vegetasi hutan atau pohon yang banyak mengandung lignin, organisme tanah dapat mempengaruhi strukur dan porositas tanah. Semakin banyak vegetasi dan bahan organik tanah meyebabkan semakin banyak organisme sehingga tanah menjadi gembur dan poros.

Dengan demikian pengaruh vegetasi dan atau organisme terhadap kesuburan tanah tergantung:
  • Jenis vegetasi dan atau organisme (legum, pohon dan rumput, semut, rayap, cacing dll.)
  • Jumlahnya
  • Siklus pertumbuhannya (semusim, tahunan)
  • C/N ratio vegetasi tersebut
  • Sifat metabolisme organisme tersebut

Selain itu vegetasi dan organisme dapat berpengaruh langsung terhadap pelapukan dan dekomposisi batuan dan bahan organik itu sendiri. Pelapukan yang ditimbulkan oleh vegetasi dan organisme tanah tersebut adalah bersifat Biokimia. Dalam siklus hidup vegetasi atau organisme tersebut melaksanakan proses fisiologis, baik pernafasan, mencari makan dan pembuangan ekresi setiap tumbuhan mengeluarkan senyawa asam organik, di mana senyawa tersebut dapat menghancurkan batuan dengan cara turut bereaksi dengan senyawa yang ada di dalam mineral batuan di sekitarnya sehingga susunan dan komposisi kimia mineral tersebut berubah dan terurai menjadi ion (ionisasi).

Secara biologis organisme tanah baik mikro maupun makro dapat merubah sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang sudah mati dari senyawa organik sederhana (dekomposisi) baik dengan cara fermentasi ataupun mekanis dalam kondisi aerob atau anaerob (udara bebas atau terendam air), selanjutnya oleh bakteri dirubah dari senyawa organik sederhana menjadi senyawa anorganik (mineralisasi) sederhana yang siap diserap oleh tanaman.

Dengan demikian kelompok tanah organik juga dipengaruhi oleh:
  • kondisi proses dekomposisi (tergenang/ anaerob atau aerob)
  • jenis vegetasi yang didekomposisi
  • organisme tanah yang melakukan dekomposisi (jenis dan jumlahnya).

Organisme tanah ini dapat dikelompokkan ke dalam:
  • mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, amoeba atau protozoa
  • makroorganisme, seperti keluarga insecta (rayap, semut dan cacing)
  • hewan tingkat tinggi yang memakan tumbuhan (vegetasi) baik berupa daun, buah atau batangnya menghasilkan kotoran misalnya pupuk kandang.

Peranan lain dari organisme tersebut selain melakukan proses dekomposisi dan mineralisasi baik secara mekanis atau kimiawi adalah mencampur antara tanah mineral dengan bahan organik sehingga terbentuklapisan humus atau horison A.

Kamis, 11 September 2008

Faktor Pembentuk Tanah III - Relief/Topografi

Relief adalah bentuk permukaan suatu satuan lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitudo) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang Topografi secara kualitatif adalah bentuk bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lerang, panjang lereng bentuk lereng. Relief atau topografi adalah merupakan faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah yang pengaruhnya dapat dibedakan sebagai berikut :

Pengaruh relief atau topografi secara langsung terhadap pelapukan adalah pada :

  • Posisi singkapan batuan (out crops) terhadap matahari
  • Posisi permukaan tanah terhadap penyinaran dan curah hujan

Sehingga dengan demikian komponen relief dan topografi yang menimbulkan efek terhadap pembentukan tanah adalah :

  • Beda tinggi permukaan lahan (amplitude)
  • Bentuk permukaan lahan
  • Derajat kelerengan
  • Panjang lereng
  • Arah lereng
  • Bentuk punggung lereng

Semua komponen relief atau topografi tersebut bersama elemen iklim secara tak langsung berkorelasi terhadap:

  • Pelapukan fisik dan kimiawi batuan
  • Transportasi (erosi) bahan terlapuk di permukaan tanah
  • Translokasi (pemindahaan secara gravitasi) atau eluviasi dan podsolisasi
  • Deposisi dan sedimentasi atau illuviasi (penimbunan)


Dengan demikian efek langsung relief dan topografi terhadap tanah adalah pada :

  • Tebal daging ( solum) tanah; solum tanah pada daerah lembah dan dataran akan lebih tebal dibandingkan solum tanah yang terdapat di puncak bukit atau lereng terjal.
  • Drainase tanah; tanah di daerah lembah atau cekungan akan lebih jelek atau lambat dan sebaliknya untuk daerah-daerah berlereng lebih cepat atau baik.
  • Satuan tanah; jenis tanah yang perbedaannya ditentukan oleh regim kelembaban dan kelas drainase serta penciri oksida reduksi, sangat dipengaruhi oleh relief atau topografi
  • Tingkat erodibilitas tanah; Semakin besar selisih tinggi, derajat kelerengan, dan panjang lereng maka semakin besar tingkat erodilitas tanah .

Faktor Pembentuk Tanah II - IKLIM

Iklim adalah faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah. Pengaruh iklim terhadap pembentukan tanah bersifat zonal yang tercermin dari susunan dan tebal horison serta morfologi tanah tersebut. Hal ini disebabkan oleh peranan elemen iklim seperti curah hujan, suhu, kelembaban dan angin serta radiasi terhadap batuan dan tanah itu sendiri sangat ditentukan oleh posisi bumi terhadap matahari sehingga secara intensif pengaruhnya hanya pada batuan di permukaan saja.
Letak geografis menyebabkan peranan elemen iklim terhadap pelapukan batuan dapat bersifat :
  • Fisik, pada daerah-daerah yang berada dalam kondisi iklim dengan fluktuasi suhu antara siang dan malam hari sangat lebar (besar), penyinaran dan intensitas tinggi, kering, maka akan mengalami pelapukan secara fisik, dengan proses fragmentasi (pemecahan) batuan dari ukuran besar menjadi ukuran pasir.
  • Fisikokimia, pada daerah bermusim (musim dingin, semi, panas dan gugur), lebih bersifat fisika kimia, gabungan antara fisik dan kimia.
  • Kimiawi, pada daerah dengan curah hujan tinggi, suhu relatif tinggi, kelembaban tinggi maka pengaruh iklim terhadap pelapukan batuan bersifat kimiawi.
Pengaruh iklim terhadap sifat pelapukan batuan tersebut akan mempunyai efek terhadap tanah yang terbentuk
  • Sifat fisik tanah, terutama tekstur dan warna
  • Sifat kimiawi tanah terutama komposisi dan jumlah ion dalam tanah
  • Jenis mineral liat dalam tanah
Selain itu iklim terutama curah hujan juga secara langsung berpengaruh terhadap tanah itu sendiri seperti terjadinya proses-proses sebagai berikut :
  • Pelindian ion (pencucian)
  • Eluviasi koloid liat dan organik pada horison A (transportasi)
  • Podsolisasi oksida-oksida besi dan aluminium serta bahan organik
  • Illuviasi (translokasi atau pemindahan secara vertikal) dan akumulasi koloid liat, bahan organik dan senyawa-senyawa peroksida dari horison yang ada di atas ke horison yang ada di bawahnya sehingga terbentuk horison B
  • Oksidasi dan reduksi dalam tanah oleh adanya air dan udara pada zona kedap air
  • Erosi lapisan tanah permukaan