Tampilkan postingan dengan label Faktor pembentuk tanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faktor pembentuk tanah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 September 2008

Faktor Pembentuk Tanah IV - Vegetasi dan Organisme Tanah

Vegetasi dan organisme dapat berperan sebagai faktor pembentuk dan pengubah tanah dengan reaksi biokimianya terhadap batuan atau setelah terdekomposisi dapat menjadi bahan induk tanah itu sendiri . Dalam hal ini vegetasi dan atau organisme dapat mempengaruhi sifat kimiawi dan fisik tanah. Tanah yang berasal dari vegetasi famili legum lebih subur dari pada tanah berasal dari hasil pelapukan vegetasi rumput-rumputan dan jauh lebih subur dari tanah yang berasal dari vegetasi hutan atau pohon yang banyak mengandung lignin, organisme tanah dapat mempengaruhi strukur dan porositas tanah. Semakin banyak vegetasi dan bahan organik tanah meyebabkan semakin banyak organisme sehingga tanah menjadi gembur dan poros.

Dengan demikian pengaruh vegetasi dan atau organisme terhadap kesuburan tanah tergantung:
  • Jenis vegetasi dan atau organisme (legum, pohon dan rumput, semut, rayap, cacing dll.)
  • Jumlahnya
  • Siklus pertumbuhannya (semusim, tahunan)
  • C/N ratio vegetasi tersebut
  • Sifat metabolisme organisme tersebut

Selain itu vegetasi dan organisme dapat berpengaruh langsung terhadap pelapukan dan dekomposisi batuan dan bahan organik itu sendiri. Pelapukan yang ditimbulkan oleh vegetasi dan organisme tanah tersebut adalah bersifat Biokimia. Dalam siklus hidup vegetasi atau organisme tersebut melaksanakan proses fisiologis, baik pernafasan, mencari makan dan pembuangan ekresi setiap tumbuhan mengeluarkan senyawa asam organik, di mana senyawa tersebut dapat menghancurkan batuan dengan cara turut bereaksi dengan senyawa yang ada di dalam mineral batuan di sekitarnya sehingga susunan dan komposisi kimia mineral tersebut berubah dan terurai menjadi ion (ionisasi).

Secara biologis organisme tanah baik mikro maupun makro dapat merubah sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang sudah mati dari senyawa organik sederhana (dekomposisi) baik dengan cara fermentasi ataupun mekanis dalam kondisi aerob atau anaerob (udara bebas atau terendam air), selanjutnya oleh bakteri dirubah dari senyawa organik sederhana menjadi senyawa anorganik (mineralisasi) sederhana yang siap diserap oleh tanaman.

Dengan demikian kelompok tanah organik juga dipengaruhi oleh:
  • kondisi proses dekomposisi (tergenang/ anaerob atau aerob)
  • jenis vegetasi yang didekomposisi
  • organisme tanah yang melakukan dekomposisi (jenis dan jumlahnya).

Organisme tanah ini dapat dikelompokkan ke dalam:
  • mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, amoeba atau protozoa
  • makroorganisme, seperti keluarga insecta (rayap, semut dan cacing)
  • hewan tingkat tinggi yang memakan tumbuhan (vegetasi) baik berupa daun, buah atau batangnya menghasilkan kotoran misalnya pupuk kandang.

Peranan lain dari organisme tersebut selain melakukan proses dekomposisi dan mineralisasi baik secara mekanis atau kimiawi adalah mencampur antara tanah mineral dengan bahan organik sehingga terbentuklapisan humus atau horison A.

Kamis, 11 September 2008

Faktor Pembentuk Tanah II - IKLIM

Iklim adalah faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah. Pengaruh iklim terhadap pembentukan tanah bersifat zonal yang tercermin dari susunan dan tebal horison serta morfologi tanah tersebut. Hal ini disebabkan oleh peranan elemen iklim seperti curah hujan, suhu, kelembaban dan angin serta radiasi terhadap batuan dan tanah itu sendiri sangat ditentukan oleh posisi bumi terhadap matahari sehingga secara intensif pengaruhnya hanya pada batuan di permukaan saja.
Letak geografis menyebabkan peranan elemen iklim terhadap pelapukan batuan dapat bersifat :
  • Fisik, pada daerah-daerah yang berada dalam kondisi iklim dengan fluktuasi suhu antara siang dan malam hari sangat lebar (besar), penyinaran dan intensitas tinggi, kering, maka akan mengalami pelapukan secara fisik, dengan proses fragmentasi (pemecahan) batuan dari ukuran besar menjadi ukuran pasir.
  • Fisikokimia, pada daerah bermusim (musim dingin, semi, panas dan gugur), lebih bersifat fisika kimia, gabungan antara fisik dan kimia.
  • Kimiawi, pada daerah dengan curah hujan tinggi, suhu relatif tinggi, kelembaban tinggi maka pengaruh iklim terhadap pelapukan batuan bersifat kimiawi.
Pengaruh iklim terhadap sifat pelapukan batuan tersebut akan mempunyai efek terhadap tanah yang terbentuk
  • Sifat fisik tanah, terutama tekstur dan warna
  • Sifat kimiawi tanah terutama komposisi dan jumlah ion dalam tanah
  • Jenis mineral liat dalam tanah
Selain itu iklim terutama curah hujan juga secara langsung berpengaruh terhadap tanah itu sendiri seperti terjadinya proses-proses sebagai berikut :
  • Pelindian ion (pencucian)
  • Eluviasi koloid liat dan organik pada horison A (transportasi)
  • Podsolisasi oksida-oksida besi dan aluminium serta bahan organik
  • Illuviasi (translokasi atau pemindahan secara vertikal) dan akumulasi koloid liat, bahan organik dan senyawa-senyawa peroksida dari horison yang ada di atas ke horison yang ada di bawahnya sehingga terbentuk horison B
  • Oksidasi dan reduksi dalam tanah oleh adanya air dan udara pada zona kedap air
  • Erosi lapisan tanah permukaan

Faktor Pembentuk Tanah I - Bahan Induk

Bahan induk tanah adalah merupakan bahan asal atau bahan baku tanah, dengan demikian bahan induk tanah merupkan faktor penentu sifat dasar tanah baik sifat fisik dan kimiawi tanah. Berdasarkan jenis bahan asal tanah tersebut maka bahan induk tanah dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Batuan induk; berasal dari batuan yang tersusun dari mineral-mineral, yang karena pengaruh iklim mengalami pelapukan kemudian menjadi tanah yang disebut tanah mineral. Tanah mineral ialah tanah yang masa padatnya terdiri dari partikel-partikel mineral yang dikelompokkan kedalam ukuran butir halus (liat), sedang (debu) dan kasar (pasir). Sebagian besar mineral tanah tersebut berasal dari batuan-batuan seperti Batuan Beku (igneous rock), Batuan Ubahan (metamorphic rocks) dan Batuan endapan (sedimentary rocks).
  2. Bahan organik; bahan organik adalah bahan induk tanah yang berasal dari tumbuhan, hewan atau bagian-bagiannya yang mati (tak dapat menjalankan proses fisiologisnya lagi). Bahan organik merupakan bahan induk tanah yang mengalami proses dekomposisi sehingga menjadi tanah yang disebut tanah organik atau humus (bila bercampur dengan tanah mineral). Tanah organik yaitu tanah yang masa padatnya tersusun dari bahan organik yang terdekomposisi atau yang sedang terdekomposisi. Contohnya tanah gambut (Histosols). Beda antara tanah organik dan tanah mineral dapat juga dilihat dari kandungan bahan organik tanahnya.
Bahan induk tanah secara langsung mempengaruhi :
  1. Kandungan mineral tanah (jumlah, jenis dan komposisi mineral)
  2. Sifat fisik tanah (tekstur dan warna tanah)
  3. Sifat kimia tanah (jumlah dan jenis ion tanah, sifat reaksi tanah (pH)