Jumat, 28 November 2008

Maaf...


Sorry, blognya agak mandeg beberapa bulan ini, soalnya lagi 'uji nyali' di UGM, biar tambah mumpuni ilmu pedologi-nya. Mohon doa restunya ya, target CUM LAUDE moga tercapai... Terima kasih.

Sabtu, 13 September 2008

Faktor Pembentuk Tanah V - Manusia

Manusia adalah termasuk faktor pengubah sifat dan jenis tanah yang sangat dominan pengaruhnya. Karena populasi, kebutuhan dan teknologi yang meningkat mengakibatkan semakin besar dan luas pengaruh manusia terhadap tanah, terutama pada kesuburan kimiawi, fisik, biologis dan klimatis tanah. Pemupukan mengakibatkan berubahnya kesuburan kimiawi tanah, penggunaan bahan organik dan pembajakan tanah mengakibatkan berubahnya struktur tanah, demikian pula irigasi dan penggunaan mulsa atau tanaman penutup tanah mengakibatkan perubahan terhadap kondisi biologis dan klimatis tanah.

Faktor Pembentuk Tanah IV - Vegetasi dan Organisme Tanah

Vegetasi dan organisme dapat berperan sebagai faktor pembentuk dan pengubah tanah dengan reaksi biokimianya terhadap batuan atau setelah terdekomposisi dapat menjadi bahan induk tanah itu sendiri . Dalam hal ini vegetasi dan atau organisme dapat mempengaruhi sifat kimiawi dan fisik tanah. Tanah yang berasal dari vegetasi famili legum lebih subur dari pada tanah berasal dari hasil pelapukan vegetasi rumput-rumputan dan jauh lebih subur dari tanah yang berasal dari vegetasi hutan atau pohon yang banyak mengandung lignin, organisme tanah dapat mempengaruhi strukur dan porositas tanah. Semakin banyak vegetasi dan bahan organik tanah meyebabkan semakin banyak organisme sehingga tanah menjadi gembur dan poros.

Dengan demikian pengaruh vegetasi dan atau organisme terhadap kesuburan tanah tergantung:
  • Jenis vegetasi dan atau organisme (legum, pohon dan rumput, semut, rayap, cacing dll.)
  • Jumlahnya
  • Siklus pertumbuhannya (semusim, tahunan)
  • C/N ratio vegetasi tersebut
  • Sifat metabolisme organisme tersebut

Selain itu vegetasi dan organisme dapat berpengaruh langsung terhadap pelapukan dan dekomposisi batuan dan bahan organik itu sendiri. Pelapukan yang ditimbulkan oleh vegetasi dan organisme tanah tersebut adalah bersifat Biokimia. Dalam siklus hidup vegetasi atau organisme tersebut melaksanakan proses fisiologis, baik pernafasan, mencari makan dan pembuangan ekresi setiap tumbuhan mengeluarkan senyawa asam organik, di mana senyawa tersebut dapat menghancurkan batuan dengan cara turut bereaksi dengan senyawa yang ada di dalam mineral batuan di sekitarnya sehingga susunan dan komposisi kimia mineral tersebut berubah dan terurai menjadi ion (ionisasi).

Secara biologis organisme tanah baik mikro maupun makro dapat merubah sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang sudah mati dari senyawa organik sederhana (dekomposisi) baik dengan cara fermentasi ataupun mekanis dalam kondisi aerob atau anaerob (udara bebas atau terendam air), selanjutnya oleh bakteri dirubah dari senyawa organik sederhana menjadi senyawa anorganik (mineralisasi) sederhana yang siap diserap oleh tanaman.

Dengan demikian kelompok tanah organik juga dipengaruhi oleh:
  • kondisi proses dekomposisi (tergenang/ anaerob atau aerob)
  • jenis vegetasi yang didekomposisi
  • organisme tanah yang melakukan dekomposisi (jenis dan jumlahnya).

Organisme tanah ini dapat dikelompokkan ke dalam:
  • mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, amoeba atau protozoa
  • makroorganisme, seperti keluarga insecta (rayap, semut dan cacing)
  • hewan tingkat tinggi yang memakan tumbuhan (vegetasi) baik berupa daun, buah atau batangnya menghasilkan kotoran misalnya pupuk kandang.

Peranan lain dari organisme tersebut selain melakukan proses dekomposisi dan mineralisasi baik secara mekanis atau kimiawi adalah mencampur antara tanah mineral dengan bahan organik sehingga terbentuklapisan humus atau horison A.

Kamis, 11 September 2008

Faktor Pembentuk Tanah III - Relief/Topografi

Relief adalah bentuk permukaan suatu satuan lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitudo) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang Topografi secara kualitatif adalah bentuk bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lerang, panjang lereng bentuk lereng. Relief atau topografi adalah merupakan faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah yang pengaruhnya dapat dibedakan sebagai berikut :

Pengaruh relief atau topografi secara langsung terhadap pelapukan adalah pada :

  • Posisi singkapan batuan (out crops) terhadap matahari
  • Posisi permukaan tanah terhadap penyinaran dan curah hujan

Sehingga dengan demikian komponen relief dan topografi yang menimbulkan efek terhadap pembentukan tanah adalah :

  • Beda tinggi permukaan lahan (amplitude)
  • Bentuk permukaan lahan
  • Derajat kelerengan
  • Panjang lereng
  • Arah lereng
  • Bentuk punggung lereng

Semua komponen relief atau topografi tersebut bersama elemen iklim secara tak langsung berkorelasi terhadap:

  • Pelapukan fisik dan kimiawi batuan
  • Transportasi (erosi) bahan terlapuk di permukaan tanah
  • Translokasi (pemindahaan secara gravitasi) atau eluviasi dan podsolisasi
  • Deposisi dan sedimentasi atau illuviasi (penimbunan)


Dengan demikian efek langsung relief dan topografi terhadap tanah adalah pada :

  • Tebal daging ( solum) tanah; solum tanah pada daerah lembah dan dataran akan lebih tebal dibandingkan solum tanah yang terdapat di puncak bukit atau lereng terjal.
  • Drainase tanah; tanah di daerah lembah atau cekungan akan lebih jelek atau lambat dan sebaliknya untuk daerah-daerah berlereng lebih cepat atau baik.
  • Satuan tanah; jenis tanah yang perbedaannya ditentukan oleh regim kelembaban dan kelas drainase serta penciri oksida reduksi, sangat dipengaruhi oleh relief atau topografi
  • Tingkat erodibilitas tanah; Semakin besar selisih tinggi, derajat kelerengan, dan panjang lereng maka semakin besar tingkat erodilitas tanah .

Faktor Pembentuk Tanah II - IKLIM

Iklim adalah faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah. Pengaruh iklim terhadap pembentukan tanah bersifat zonal yang tercermin dari susunan dan tebal horison serta morfologi tanah tersebut. Hal ini disebabkan oleh peranan elemen iklim seperti curah hujan, suhu, kelembaban dan angin serta radiasi terhadap batuan dan tanah itu sendiri sangat ditentukan oleh posisi bumi terhadap matahari sehingga secara intensif pengaruhnya hanya pada batuan di permukaan saja.
Letak geografis menyebabkan peranan elemen iklim terhadap pelapukan batuan dapat bersifat :
  • Fisik, pada daerah-daerah yang berada dalam kondisi iklim dengan fluktuasi suhu antara siang dan malam hari sangat lebar (besar), penyinaran dan intensitas tinggi, kering, maka akan mengalami pelapukan secara fisik, dengan proses fragmentasi (pemecahan) batuan dari ukuran besar menjadi ukuran pasir.
  • Fisikokimia, pada daerah bermusim (musim dingin, semi, panas dan gugur), lebih bersifat fisika kimia, gabungan antara fisik dan kimia.
  • Kimiawi, pada daerah dengan curah hujan tinggi, suhu relatif tinggi, kelembaban tinggi maka pengaruh iklim terhadap pelapukan batuan bersifat kimiawi.
Pengaruh iklim terhadap sifat pelapukan batuan tersebut akan mempunyai efek terhadap tanah yang terbentuk
  • Sifat fisik tanah, terutama tekstur dan warna
  • Sifat kimiawi tanah terutama komposisi dan jumlah ion dalam tanah
  • Jenis mineral liat dalam tanah
Selain itu iklim terutama curah hujan juga secara langsung berpengaruh terhadap tanah itu sendiri seperti terjadinya proses-proses sebagai berikut :
  • Pelindian ion (pencucian)
  • Eluviasi koloid liat dan organik pada horison A (transportasi)
  • Podsolisasi oksida-oksida besi dan aluminium serta bahan organik
  • Illuviasi (translokasi atau pemindahan secara vertikal) dan akumulasi koloid liat, bahan organik dan senyawa-senyawa peroksida dari horison yang ada di atas ke horison yang ada di bawahnya sehingga terbentuk horison B
  • Oksidasi dan reduksi dalam tanah oleh adanya air dan udara pada zona kedap air
  • Erosi lapisan tanah permukaan

Faktor Pembentuk Tanah I - Bahan Induk

Bahan induk tanah adalah merupakan bahan asal atau bahan baku tanah, dengan demikian bahan induk tanah merupkan faktor penentu sifat dasar tanah baik sifat fisik dan kimiawi tanah. Berdasarkan jenis bahan asal tanah tersebut maka bahan induk tanah dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Batuan induk; berasal dari batuan yang tersusun dari mineral-mineral, yang karena pengaruh iklim mengalami pelapukan kemudian menjadi tanah yang disebut tanah mineral. Tanah mineral ialah tanah yang masa padatnya terdiri dari partikel-partikel mineral yang dikelompokkan kedalam ukuran butir halus (liat), sedang (debu) dan kasar (pasir). Sebagian besar mineral tanah tersebut berasal dari batuan-batuan seperti Batuan Beku (igneous rock), Batuan Ubahan (metamorphic rocks) dan Batuan endapan (sedimentary rocks).
  2. Bahan organik; bahan organik adalah bahan induk tanah yang berasal dari tumbuhan, hewan atau bagian-bagiannya yang mati (tak dapat menjalankan proses fisiologisnya lagi). Bahan organik merupakan bahan induk tanah yang mengalami proses dekomposisi sehingga menjadi tanah yang disebut tanah organik atau humus (bila bercampur dengan tanah mineral). Tanah organik yaitu tanah yang masa padatnya tersusun dari bahan organik yang terdekomposisi atau yang sedang terdekomposisi. Contohnya tanah gambut (Histosols). Beda antara tanah organik dan tanah mineral dapat juga dilihat dari kandungan bahan organik tanahnya.
Bahan induk tanah secara langsung mempengaruhi :
  1. Kandungan mineral tanah (jumlah, jenis dan komposisi mineral)
  2. Sifat fisik tanah (tekstur dan warna tanah)
  3. Sifat kimia tanah (jumlah dan jenis ion tanah, sifat reaksi tanah (pH)

Fungsi-fungsi TANAH

Tanah sebagai tubuh alam mempunyai beberapa fungsi penting antara lain dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Secara Agronomis tanah mempunyai fungsi dan kegunaan sebagai :
  • Media tumbuh tanaman
  • Penyedia dan sumber unsur hara dan air tanah
  • Tempat akar tumbuhan berpegang sehingga tumbuhan dapat berdiri tegak

Secara Biologis tanah berperan sebagai :

  • Habitat mikroorganisme tanah
  • Penyedia makanan dan air bagi organisme tanah


Secara Teknis tanah adalah sebagai :
  • Tempat menegakkan dan menopang bangunan
  • Bahan bangunan itu sendiri


Secara Ekologis tanah berfungsi :
  • Sebagai penyaring (filter)
  • Sebagai pendaur (recycle)
  • Sebagai gudang penyimpan benih tumbuh-tumbuhan
  • Sebagai tempat reaksi penetralan senyawa kimia beracun
  • Sebagai sumber mineral sekunder bagi tumbuhan
  • Sebagai penyangga (buffer)
  • Sebagai penyimpan, penahan dan penyedia air tanah
  • Sebagai pengaya air dengan unsur mineral dan bahan organik
  • Sebagai pengendali banjir air.

Sabtu, 06 September 2008

Konsep tentang TANAH dan LAHAN

Apa itu TANAH? Apa beda tanah dengan lahan? Suatu pertanyaan yang terkadang membuat mahasiswa ilmu tanah semester akhir pun kelimpungan bila ditanya tim penguji skripsi. Ironis ya.....??? Setelah sekian semester ditempuh, pertanyaan sederhana seperti ini pun kadang membuat suara mereka tercekat di tenggorokan! :P

Tanah adalah suatu benda berbentuk tiga dimensi, tersusun dari masa padat, cair dan gas yang terdapat di permukaan bumi, berasal dari hasil pelapukan batuan dan atau dekomposisi bahan organik. Tanah merupakan satu rantai di antara sistem tubuh alam yang keberadaannya tidak dengan sendirinya, proses pembentukan dan keberadaannya sangat dipengaruhi oleh faktor alam yang lain, seperti bahan induk, iklim, topografi atau relief, vegetasi atau organisme, manusia dan waktu.

Kalau begitu, apa dong LAHAN?

Lahan adalah suatu hamparan (areal) tertentu di permukaan bumi yang secara vertikal mencakup komponen iklim seperti udara, tanah, air dan batuan yang ada di bawah tanah serta vegetasi dan aktivitas manusia pada masa lalu atau saat ini yang ada di atas tanah atau permukaan bumi.

Penggunaan lahan baik masa kini atau saat mendatang untuk tujuan-tujuan tertentu harus memperhatikan komponen pembentuk lahan tersebut, seperti : iklim, tanah, air/hidrologi, bentang alam dan aktivitas manusia yang sudah ada di atasnya, serta status hukum atau sosial budaya yang melekat. Mengapa begitu? Ada yang tahu kenapa?

Jumat, 05 September 2008

Renungan Pendidikan

Cukup menarik melihat semangat anak-anak mahasiswa baru memasuki kampus UNMUL kemarin. Yup, karena kemarin adalah hari perdana bagi mereka untuk melakoni peran sebagai MAHASISWA dan MAHASISWI sebuah universitas negeri ternama di provinsi ini.
Dengan sedikit tanya jawab dengan anak-anak baru dari berbagai fakultas tersebut, saya langsung dapat menarik sebuah kesimpulan yang tidak begitu menggembirakan untuk saya pribadi. Mereka beranggapan kalau mereka kuliah di universitas, mereka akan menjadi pakar di salah satu bidang yang mereka pilih, segala sesuatunya akan berjalan mulus dan akan mendatangkan keberhasilan dan penghasilan yang besar. Oleh karenanya sebagian besar dari teman-teman muda ini (dan para orang tuanya) memilih sekolah-sekolah atau universitas tertentu atau favorit untuk dimasuki. Sedikit saja dari mereka yang mempertimbangkan pentingnya cara berpikir khas mereka sebagai bagian dari pendidikan mereka secara keseluruhan. Kepandaian yang unggul bahkan tidak menghasilkan apa-apa sepanjang jalan menuju sukses! Komitmen dan kerja keras saja juga bukan jawaban, bila tidak disertai KETRAMPILAN BERPIKIR yang baik.
Ketrampilan berpikir memerlukan seni dan manajemen berpikir yang terus menerus dapat disusun, dianalisis, diperbaiki, dipelajari dan diajarkan atau diamalkan. Pemberdayaan akan efektif bila pendidikan mengalami pembaharuan dan reformasi secara menyeluruh menuju sebuah perbaikan 'ketrampilan berpikir' peserta didiknya. Sehingga outputnya akan terus menerus mampu berpikir secara orisinil dan terus mampu membaca dan menulis untuk belajar, bukan hanya sekedar belajar menulis dan membaca saja. Dengan demikian diharapkan peserta didik terus menerus mengorganisasikan diri untuk tetap unggul, cakap dan produktif. Dari pengamatan sementara tentang kemampuan baca ini bahwa meskipun 90% penduduk kita telah bisa membaca dan menulis, tetapi kurang dari 20% saja yang dapat menafsirkan sebuah karangan dalam sebuah buku atau yang ditulis oleh kolumnis surat kabar, kondisi ini tentunya sangat serius bila dilihat dari kemampuan baca untuk belajar dan pengorganisasian diri untuk unggul terus menerus.
Sistem pendidikan kita telah gagal untuk mengajar orang tentang hal-hal bagaimana agar dapat hidup lebih baik dan atau menghayati hidup secara lebih memuaskan, tapi jangan berkecil hati, masih ada cara untuk mengejar tujuan melalui MEMBACA UNTUK BELAJAR. Hal ini sesuai dengan pendapat filosof Thomas Carlyle (1795-1881): Kalau kami memikirkannya, yang dapat dilakukan bagi kita oleh sebuah universitas atau sekolah tinggi, hanyalah apa yang telah dimulai oleh Sekolah Dasar, yaitu mengajar kita membaca, belajar membaca dalam berbagai macam bahasa, dalam berbagai disiplin ilmu. Tetapi tempat di mana kita memperoleh pengetahuan, bahkan pengetahuan teoritis adalah dari buku-buku itu sendiri. Setelah segala macam Profesor atau Guru Besar mengajar kita, yang terpenting adalah apa yang kita baca. Universitas sejati ini adalah koleksi buku-buku di mana kita bisa membaca untuk belajar secara mandiri.
Dari hasil pengamatan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia yang ber-etos kerja tinggi adalah mereka yang secara terus menerus membaca untuk belajar sehingga mempunyai ketrampilan berpikir yang baik dan orisinil serta bersikap mental positif. SIAPA KITA adalah buku-buku apa yang kita baca dan siapa-siapa teman kita.

Kamis, 04 September 2008

Tanah yang HIDUP

Konsep ’tanah yang hidup’ adalah sesuatu yang hidup dan bisa menjadi sehat atau sakit – tergantung pada perlakuan yang diterimanya – sama halnya dengan manusia lah... Tanah sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat pula.
Tanah sesuatu benda yang unik menurut saya, keberadaannya nyata di muka bumi ini tapi kadang kurang disadari arti pentingnya oleh manusia. Kita sering lalu lalang menginjak tanah untuk berjalan atau berlari setiap harinya, tapi kita jarang memperhatikan kehidupan apa yang ada di dalamnya, aktifitas apa saja yang sedang atau telah terjadi di lapisan tanah bawah dan bagaimana proses terjadinya tanah sehingga ada dan nyata seperti sekarang ini.
Banyak sekali kehidupan di dalam tanah yang dapat mempengaruhi kehidupan mahluk lain yang tinggal di atas permukaan tanah. Kehidupan di dalam tanah terdiri dari berbagai macam jenis mahluk hidup. Mulai dari yang kasat mata alias tidak bisa dilihat dengan mata telanjang seperti bakteri bersel satu, alga/ ganggang, jamur dan protozoa, atau yang mempunyai bentuk agak sedikit lebih kompleks seperti nematoda dan antropoda, sampai pada mahluk hidup yang dapat dilihat dengan mata telanjang seperti cacing, rayap, serangga, hingga mamalia-mamalia kecil dan tanaman atau tumbuhan yang tumbuh di tanah. Mahluk-mahluk ini saling berinteraksi satu sama lain untuk mengubah dan mempertukarkan energi serta nutrisi termasuk dengan akar tanaman yang tumbuh di atasnya.
Kehadiran mahluk-mahluk cilik tadi (cilik, karena tidak ada gajah yang tinggal dan hidup di dalam tanah, right?) serta aktifitas yang asyik mereka lakukan di dalam tanah pada akhirnya akan mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologis dari tanah yang mereka diami. Penghuni tanah ini akan bereaksi terhadap mineral dan bahan organik yang terkandung di dalam tanah dan membantu menciptakan sifat fisik, kimia maupun biologi tanah yang baik. Contoh kecil dari membaiknya sifat tanah oleh cacing adalah struktur tanah. Struktur tanah akan menentukan proses resapan air, daya ikat tanah terhadap air dan drainase di dalam tanah. Cacing mampu menggali tanah hingga kedalaman 7 meter dari permukaan tanah. Cacing mampu menciptakan lubang serta saluran dalam tanah yang pada akhirnya memperbaiki aerasi tanah dan memudahkan air meresap ke dalam tanah.
Para penghuni tanah juga dapat membantu penyerapan nutrisi dan mineral oleh tanaman melalui proses pelapukan batuan, bahan organik, bangkai hewan, dan aktifitas mikroba. Proses-proses ini akan mengubah mineral yang tadinya diikat oleh elemen lain atau kondisi asam-basa dalam tanah, menjadi unsur hara tersedia yang bisa diserap oleh tanaman. Sejumlah mikroorganisme memiliki simbiosis mutualisme maupun parasitisme dengan tanaman. Hubungan ini membantu tersedianya nutrisi bagi tanaman atau menghalau hama penyakit yang menyerang tanaman. Lebih jauh lagi, secara ekologis – keberadaan mikroba-mikroba di dalam tanah bisa membantu menguraikankan bahan pencemar berbahaya seperti pestisida, pupuk kimia dan menyerap gas-gas rumah kaca seperti metana dan karbondioksida.
Dengan menyadari bahwa tanah memiliki kehidupan di dalamnya, maka upaya menjaga kesuburan tanah tak hanya sekedar memperhatikan komposisi unsur-unsur kimia (nutrisi bagi tanaman) di dalam tanah. Lebih dari itu, menjaga kesuburan tanah harus dilakukan dengan memperhitungkan kehidupan bagi para penghuni tanah.
Menambahkan pupuk kimia yang mengandung unsur hara makro maupun mikro saja tidak akan bisa menjaga kesuburan tanah. Karena praktek ini dalam jangka waktu yang lama malah akan merusak kandungan bahan organik tanah. Tanah pertanian akan menjadi keras dan tidak subur serta air tanah akan menjadi langka. Padahal, kehidupan mahluk-mahluk penghuni tanah sangat tergantung pada ketersediaan bahan organik dalam tanah. Selain menyuburkan, bahan organik akan memperbaiki komposisi air dan udara di dalam tanah, sehingga struktur dan tekstur tanah akan menjadi baik untuk perakaran tanaman. Jika bahan organiknya tidak ada, maka kehidupan tanah pun akan lenyap. Disinilah pentingnya kesadaran bahwa sebenarnya yang ’diberi makan’ adalah tanahnya, bukan tanamannya. Yang seharusnya dilakukan adalah terus menerus menambahkan bahan organik ke dalam tanah untuk memastikan selalu tersedia cukup makanan untuk para penghuni tanah. Selanjutnya biarkan mereka menjalankan tugasnya sebagai produsen dan konsumen dalam jaring-jaring makanan tanah dan hasilnya: KESUBURAN TANAH AKAN TERJAGA!

Kamis, 28 Agustus 2008

TANAH a.k SOIL

Tanah. Memiliki banyak arti, setiap orang akan menafsirkan kata tersebut ke dalam bermacam-macam pengertian.

Untuk petani, tanah berarti tempat bercocok tanam untuk menyambung hidup dan memberi makan anak istri.


Untuk negarawan, tanah/lahan adalah hal penting yang harus dimiliki selain rakyat, tanah berarti kekuasaan bagi mereka.


Untuk para ahli bangunan, tanah adalah bahan bangunan disamping sebagai tempat untuk mendirikan bangunan itu sendiri.


Bagi saya tanah adalah sesuatu benda yang unik, benda mati tapi hidup karena memiliki kehidupan sendiri dan bisa memberi kehidupan bagi seluruh mahluk. Entah apa arti tanah bagi anda....?