Jumat, 05 September 2008

Renungan Pendidikan

Cukup menarik melihat semangat anak-anak mahasiswa baru memasuki kampus UNMUL kemarin. Yup, karena kemarin adalah hari perdana bagi mereka untuk melakoni peran sebagai MAHASISWA dan MAHASISWI sebuah universitas negeri ternama di provinsi ini.
Dengan sedikit tanya jawab dengan anak-anak baru dari berbagai fakultas tersebut, saya langsung dapat menarik sebuah kesimpulan yang tidak begitu menggembirakan untuk saya pribadi. Mereka beranggapan kalau mereka kuliah di universitas, mereka akan menjadi pakar di salah satu bidang yang mereka pilih, segala sesuatunya akan berjalan mulus dan akan mendatangkan keberhasilan dan penghasilan yang besar. Oleh karenanya sebagian besar dari teman-teman muda ini (dan para orang tuanya) memilih sekolah-sekolah atau universitas tertentu atau favorit untuk dimasuki. Sedikit saja dari mereka yang mempertimbangkan pentingnya cara berpikir khas mereka sebagai bagian dari pendidikan mereka secara keseluruhan. Kepandaian yang unggul bahkan tidak menghasilkan apa-apa sepanjang jalan menuju sukses! Komitmen dan kerja keras saja juga bukan jawaban, bila tidak disertai KETRAMPILAN BERPIKIR yang baik.
Ketrampilan berpikir memerlukan seni dan manajemen berpikir yang terus menerus dapat disusun, dianalisis, diperbaiki, dipelajari dan diajarkan atau diamalkan. Pemberdayaan akan efektif bila pendidikan mengalami pembaharuan dan reformasi secara menyeluruh menuju sebuah perbaikan 'ketrampilan berpikir' peserta didiknya. Sehingga outputnya akan terus menerus mampu berpikir secara orisinil dan terus mampu membaca dan menulis untuk belajar, bukan hanya sekedar belajar menulis dan membaca saja. Dengan demikian diharapkan peserta didik terus menerus mengorganisasikan diri untuk tetap unggul, cakap dan produktif. Dari pengamatan sementara tentang kemampuan baca ini bahwa meskipun 90% penduduk kita telah bisa membaca dan menulis, tetapi kurang dari 20% saja yang dapat menafsirkan sebuah karangan dalam sebuah buku atau yang ditulis oleh kolumnis surat kabar, kondisi ini tentunya sangat serius bila dilihat dari kemampuan baca untuk belajar dan pengorganisasian diri untuk unggul terus menerus.
Sistem pendidikan kita telah gagal untuk mengajar orang tentang hal-hal bagaimana agar dapat hidup lebih baik dan atau menghayati hidup secara lebih memuaskan, tapi jangan berkecil hati, masih ada cara untuk mengejar tujuan melalui MEMBACA UNTUK BELAJAR. Hal ini sesuai dengan pendapat filosof Thomas Carlyle (1795-1881): Kalau kami memikirkannya, yang dapat dilakukan bagi kita oleh sebuah universitas atau sekolah tinggi, hanyalah apa yang telah dimulai oleh Sekolah Dasar, yaitu mengajar kita membaca, belajar membaca dalam berbagai macam bahasa, dalam berbagai disiplin ilmu. Tetapi tempat di mana kita memperoleh pengetahuan, bahkan pengetahuan teoritis adalah dari buku-buku itu sendiri. Setelah segala macam Profesor atau Guru Besar mengajar kita, yang terpenting adalah apa yang kita baca. Universitas sejati ini adalah koleksi buku-buku di mana kita bisa membaca untuk belajar secara mandiri.
Dari hasil pengamatan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia yang ber-etos kerja tinggi adalah mereka yang secara terus menerus membaca untuk belajar sehingga mempunyai ketrampilan berpikir yang baik dan orisinil serta bersikap mental positif. SIAPA KITA adalah buku-buku apa yang kita baca dan siapa-siapa teman kita.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Asm. Pak, kurang komplit tulisanx.. Rajin2 nulis ya pak... :D