Kamis, 04 September 2008

Tanah yang HIDUP

Konsep ’tanah yang hidup’ adalah sesuatu yang hidup dan bisa menjadi sehat atau sakit – tergantung pada perlakuan yang diterimanya – sama halnya dengan manusia lah... Tanah sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat pula.
Tanah sesuatu benda yang unik menurut saya, keberadaannya nyata di muka bumi ini tapi kadang kurang disadari arti pentingnya oleh manusia. Kita sering lalu lalang menginjak tanah untuk berjalan atau berlari setiap harinya, tapi kita jarang memperhatikan kehidupan apa yang ada di dalamnya, aktifitas apa saja yang sedang atau telah terjadi di lapisan tanah bawah dan bagaimana proses terjadinya tanah sehingga ada dan nyata seperti sekarang ini.
Banyak sekali kehidupan di dalam tanah yang dapat mempengaruhi kehidupan mahluk lain yang tinggal di atas permukaan tanah. Kehidupan di dalam tanah terdiri dari berbagai macam jenis mahluk hidup. Mulai dari yang kasat mata alias tidak bisa dilihat dengan mata telanjang seperti bakteri bersel satu, alga/ ganggang, jamur dan protozoa, atau yang mempunyai bentuk agak sedikit lebih kompleks seperti nematoda dan antropoda, sampai pada mahluk hidup yang dapat dilihat dengan mata telanjang seperti cacing, rayap, serangga, hingga mamalia-mamalia kecil dan tanaman atau tumbuhan yang tumbuh di tanah. Mahluk-mahluk ini saling berinteraksi satu sama lain untuk mengubah dan mempertukarkan energi serta nutrisi termasuk dengan akar tanaman yang tumbuh di atasnya.
Kehadiran mahluk-mahluk cilik tadi (cilik, karena tidak ada gajah yang tinggal dan hidup di dalam tanah, right?) serta aktifitas yang asyik mereka lakukan di dalam tanah pada akhirnya akan mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologis dari tanah yang mereka diami. Penghuni tanah ini akan bereaksi terhadap mineral dan bahan organik yang terkandung di dalam tanah dan membantu menciptakan sifat fisik, kimia maupun biologi tanah yang baik. Contoh kecil dari membaiknya sifat tanah oleh cacing adalah struktur tanah. Struktur tanah akan menentukan proses resapan air, daya ikat tanah terhadap air dan drainase di dalam tanah. Cacing mampu menggali tanah hingga kedalaman 7 meter dari permukaan tanah. Cacing mampu menciptakan lubang serta saluran dalam tanah yang pada akhirnya memperbaiki aerasi tanah dan memudahkan air meresap ke dalam tanah.
Para penghuni tanah juga dapat membantu penyerapan nutrisi dan mineral oleh tanaman melalui proses pelapukan batuan, bahan organik, bangkai hewan, dan aktifitas mikroba. Proses-proses ini akan mengubah mineral yang tadinya diikat oleh elemen lain atau kondisi asam-basa dalam tanah, menjadi unsur hara tersedia yang bisa diserap oleh tanaman. Sejumlah mikroorganisme memiliki simbiosis mutualisme maupun parasitisme dengan tanaman. Hubungan ini membantu tersedianya nutrisi bagi tanaman atau menghalau hama penyakit yang menyerang tanaman. Lebih jauh lagi, secara ekologis – keberadaan mikroba-mikroba di dalam tanah bisa membantu menguraikankan bahan pencemar berbahaya seperti pestisida, pupuk kimia dan menyerap gas-gas rumah kaca seperti metana dan karbondioksida.
Dengan menyadari bahwa tanah memiliki kehidupan di dalamnya, maka upaya menjaga kesuburan tanah tak hanya sekedar memperhatikan komposisi unsur-unsur kimia (nutrisi bagi tanaman) di dalam tanah. Lebih dari itu, menjaga kesuburan tanah harus dilakukan dengan memperhitungkan kehidupan bagi para penghuni tanah.
Menambahkan pupuk kimia yang mengandung unsur hara makro maupun mikro saja tidak akan bisa menjaga kesuburan tanah. Karena praktek ini dalam jangka waktu yang lama malah akan merusak kandungan bahan organik tanah. Tanah pertanian akan menjadi keras dan tidak subur serta air tanah akan menjadi langka. Padahal, kehidupan mahluk-mahluk penghuni tanah sangat tergantung pada ketersediaan bahan organik dalam tanah. Selain menyuburkan, bahan organik akan memperbaiki komposisi air dan udara di dalam tanah, sehingga struktur dan tekstur tanah akan menjadi baik untuk perakaran tanaman. Jika bahan organiknya tidak ada, maka kehidupan tanah pun akan lenyap. Disinilah pentingnya kesadaran bahwa sebenarnya yang ’diberi makan’ adalah tanahnya, bukan tanamannya. Yang seharusnya dilakukan adalah terus menerus menambahkan bahan organik ke dalam tanah untuk memastikan selalu tersedia cukup makanan untuk para penghuni tanah. Selanjutnya biarkan mereka menjalankan tugasnya sebagai produsen dan konsumen dalam jaring-jaring makanan tanah dan hasilnya: KESUBURAN TANAH AKAN TERJAGA!

Tidak ada komentar: